<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Soera Kampoeng</title>
	<atom:link href="http://kampoengkoe.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kampoengkoe.wordpress.com</link>
	<description>Sedjuk dan Damai</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Feb 2007 10:47:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kampoengkoe.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Soera Kampoeng</title>
		<link>http://kampoengkoe.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kampoengkoe.wordpress.com/osd.xml" title="Soera Kampoeng" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kampoengkoe.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Lir Ilir</title>
		<link>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/09/lir-ilir/</link>
		<comments>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/09/lir-ilir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Feb 2007 10:43:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kampoengkoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lir ilir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/09/lir-ilir/</guid>
		<description><![CDATA[Lir Ilir. Adalah pekabaran sekitar dunia pertanian. Usaha-usaha, info-info, dan teknologi-teknologi pertanian.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kampoengkoe.wordpress.com&amp;blog=761158&amp;post=34&amp;subd=kampoengkoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lir Ilir. Adalah pekabaran sekitar dunia pertanian. Usaha-usaha, info-info, dan teknologi-teknologi pertanian.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kampoengkoe.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kampoengkoe.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kampoengkoe.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kampoengkoe.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kampoengkoe.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kampoengkoe.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kampoengkoe.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kampoengkoe.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kampoengkoe.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kampoengkoe.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kampoengkoe.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kampoengkoe.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kampoengkoe.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kampoengkoe.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kampoengkoe.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kampoengkoe.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kampoengkoe.wordpress.com&amp;blog=761158&amp;post=34&amp;subd=kampoengkoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/09/lir-ilir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9809f386106eea37b94443070e1c2e8b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">kampoengkoe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akar Tradisi Toleransi</title>
		<link>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/akar-tradisi-toleransi/</link>
		<comments>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/akar-tradisi-toleransi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Feb 2007 19:30:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kampoengkoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Semilir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/akar-tradisi-toleransi/</guid>
		<description><![CDATA[Minggu malam, setelah pulang dari acara keakraban mahasiswa baru Katolik UNY saya baca sebuah tulisan pendek di harian Kompas Jogja  (1/10/06). Tulisan pendek itu menyebutkan, Gubernur DIY, Sultan Hamengku Buwono X menyebarkan surat edaran, menghimbau warga Jogja selama Ramadhan untuk meningkatkan toleransi beragamanya. Jujur! Saya agak tertegun sejenak saat baca tulisan itu. Perkataan Sultan Jogja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kampoengkoe.wordpress.com&amp;blog=761158&amp;post=30&amp;subd=kampoengkoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Minggu malam, setelah pulang dari acara keakraban mahasiswa baru Katolik UNY saya baca sebuah tulisan pendek di harian <em>Kompas Jogja </em><span> </span>(</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">1/10/06</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">). Tulisan pendek itu menyebutkan, Gubernur DIY, Sultan Hamengku Buwono X menyebarkan </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">surat</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> edaran, menghimbau warga Jogja selama Ramadhan untuk meningkatkan toleransi beragamanya. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Jujur! Saya agak tertegun sejenak saat baca tulisan itu. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Perkataan Sultan Jogja mengingatkan saya (entah kebetulan) yang selalu hidup di lingkungan berbeda agama. Saya lahir di kampung kecil pedalaman Temanggung, Jawa Tengah yang penduduknya mayoritas beragama Budha. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Jika diperinci demikian: dari 50 kepala keluarga di kampung itu, 10 diantaranya Islam, 2 keluarga Katolik, 3 Kristen, sisanya Budha (sejak kecil saya membayangkan akan ketemu seorang Hindu). Vihara dan Mushala hanya berbatas jalan. Setahu saya tak pernah ada konflik di kampung kecil itu meskipun agama berwarna-warni.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Di bulan Ramadhan kebanyakan warga kampung tak puasa. Mereka bebas saja merokok di rumah dan di sawah. Sedang kaum muslim tetap leluasa beribadah. Aktivitas tak ada yang berubah. Malam Minggu dan malam Kamis saat umat Budha ke Vihara kaum muslim tarawih di mushala. Sehabis sembayang dengan cara masing-masing mereka bertemu di perempatan, mengobrol soal panen, sembako dan pupuk yang kian mahal.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Perbedaan agama itu makin melekat dalam ingatan ketika saya pindah kampung di </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">kota</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> kecamatan Kaloran, Temanggung yang mayoritas penduduknya muslim. Bagi saya, Ramadhan saat itu menjadi bulan penuh kesendirian sekaligus kebersamaan. Tiap isya saya merasa sendiri ditinggal teman-teman yang ikut tarawih. Rasanya seperti menjadi <em>the others. </em>Saya bukan bagian dari mereka. Tetapi rasa itu hilang ketika saya menjadi bagian dari kebersamaan. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Tiap pagi sehabis teman-teman muslim sahur dan shalat subuh kami jalan-jalan menikmati pagi pegunungan. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Apalagi ketika Idul Fitri tiba. Orang-orang kampung berkumpul di aula bermaaf-maafan tak terkecuali saya dan beberapa tetangga non-muslim pun para rantau yang pulang kampung. Idul Fitri di kampung kami menjadi bagian dari kehidupan yang tak terpisahkan. Idul Fitri menjadi moment penting ketika semua berkumpul.<span>  </span>Dan <em>mangan ora mangan kumpul </em>ternyata bukan ungkapan kosong.<em> </em></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Di kampus bayangan semasa kecil terwujud. Saya ketemu anak </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Bali</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> beragama Hindu. Di kampus pula saya kenal dengan orang yang mengaku dirinya atheis. Bahkan para pengikut-pengikut tarekat dengan ritual dan konsepsi aneh menurut pandangan umum. Suasana jauh lebih kontras di banding dengan di kampung dulu. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Di kampus pula saya temukan pelbagai peristiwa. Di ruang kecil pojok kampus saya merokok bersama teman yang tak puasa. Tiba-tiba seorang karib dari </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Jakarta</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> datang mau shalat dzuhur, kami persilakan karib itu untuk shalat sementara kami tetap asyik merokok. Karib saya sebenarnya juga perokok. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Tapi dia tak berkomentar sebaliknya menunjukan sikap biasa.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Seorang karib lain justru mengajak saya ikut sahur. Ia belikan nasi dan sayur. Saya dimintanya ikut puasa. Permintaan itu saya penuhi. Jika puasa diartikan sebagai menahan lapar, dahaga, dan rokok, hampir tiap hari saya merasakannya (kadang saya tak punya duit untuk beli nasi kucing barang sebungkus). </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Ajakan puasa itulah yang membuat saya mengerti betapa nikmatnya bersama-sama menunggu adzan maghrib saat puasa. Menunggu berbuka menjadi satu kenikmatan sendiri, rasa kebahagiaan yang pasti datang. <span> </span>Hanya saja saya yang tak punya duit untuk berbuka. Akhirnya karib saya juga yang membelikan segelas kolak pisang dan beberapa batang rokok. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Ini pengalaman lain diskusi sore sekalian buka bersama di LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) Jogja. Diskusi buku <em>Kitab Shaladin </em>yang bercerita tokoh Islam yang tak pernah saya kenal, kebetulan karib saya mengajak. Di situ di tengah-tengah mereka yang puasa dan di tengah-tengah diskusi saya tak merasa menjadi yang lain. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Mereka semua orang yang suka diskusi, saya yakin mereka biasa menerima perbedaan. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Beberapa peristiwa yang saya alami di atas itulah yang membuat saya tertegun. Perkataan Sultan menjadi semacam pencerah bahwa saya selama ini terlalu mengagungkan teori-terori toleransi hingga saya tak bisa menjangkaunya.<span>  </span>Sungguh!</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kampoengkoe.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kampoengkoe.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kampoengkoe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kampoengkoe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kampoengkoe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kampoengkoe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kampoengkoe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kampoengkoe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kampoengkoe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kampoengkoe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kampoengkoe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kampoengkoe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kampoengkoe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kampoengkoe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kampoengkoe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kampoengkoe.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kampoengkoe.wordpress.com&amp;blog=761158&amp;post=30&amp;subd=kampoengkoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/akar-tradisi-toleransi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9809f386106eea37b94443070e1c2e8b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">kampoengkoe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seni dan Tradisi</title>
		<link>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/seni-dan-tradisi/</link>
		<comments>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/seni-dan-tradisi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Feb 2007 19:06:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kampoengkoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni dan Tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/seni-dan-tradisi/</guid>
		<description><![CDATA[Seni dan Tradisi. Pekabaran tentang dunia kesenian di Kampoengkoe. Tempat orang kampung berkesenian. Tempat tradisi yang diwariskan turun-temurun sebuah coba dipertahankan.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kampoengkoe.wordpress.com&amp;blog=761158&amp;post=27&amp;subd=kampoengkoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kampoengkoe.files.wordpress.com/2007/02/kuda-lumping.jpg" title="kuda lumping"><img src="http://kampoengkoe.files.wordpress.com/2007/02/kuda-lumping.thumbnail.jpg?w=470" alt="kuda lumping" /></a></p>
<p>Seni dan Tradisi. Pekabaran tentang dunia kesenian di Kampoengkoe. Tempat orang kampung berkesenian. Tempat tradisi yang diwariskan turun-temurun sebuah coba dipertahankan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kampoengkoe.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kampoengkoe.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kampoengkoe.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kampoengkoe.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kampoengkoe.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kampoengkoe.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kampoengkoe.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kampoengkoe.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kampoengkoe.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kampoengkoe.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kampoengkoe.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kampoengkoe.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kampoengkoe.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kampoengkoe.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kampoengkoe.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kampoengkoe.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kampoengkoe.wordpress.com&amp;blog=761158&amp;post=27&amp;subd=kampoengkoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/seni-dan-tradisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9809f386106eea37b94443070e1c2e8b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">kampoengkoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kampoengkoe.files.wordpress.com/2007/02/kuda-lumping.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kuda lumping</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketoprak di Kampoengkoe Pernah Jaya</title>
		<link>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/ketoprak-di-kampeongkoe-pernah-jaya/</link>
		<comments>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/ketoprak-di-kampeongkoe-pernah-jaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Feb 2007 17:06:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kampoengkoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni dan Tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/ketoprak-di-kampeongkoe-pernah-jaya/</guid>
		<description><![CDATA[Ketoprak di Kampeongkoe pernah berjaya pada tahun 1980-an. Kesenian Ketoprak di Kampoengkoe dinamakan &#8220;Siswo Budoyo&#8221; (pembelajar kebudayaan). Warga sendiri yang memberi nama itu. Kejayaan itu dibuktikan dengan sering diundangnya para pemain ketoprak dari Kampoengkoe untuk pentas ke kampung-kampung lain. Juga pernah menjadi kelompok ketoprak tingkat Kecamatan. Karena Kampoengkoe kecil, maka seluruh warga ikut ambil bagian dalam kesenian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kampoengkoe.wordpress.com&amp;blog=761158&amp;post=17&amp;subd=kampoengkoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketoprak di Kampeongkoe pernah berjaya pada tahun 1980-an. Kesenian Ketoprak di Kampoengkoe dinamakan &#8220;Siswo Budoyo&#8221; (pembelajar kebudayaan). Warga sendiri yang memberi nama itu. Kejayaan itu dibuktikan dengan sering diundangnya para pemain ketoprak dari Kampoengkoe untuk pentas ke kampung-kampung lain. Juga pernah menjadi kelompok ketoprak tingkat Kecamatan.</p>
<p>Karena Kampoengkoe kecil, maka seluruh warga ikut ambil bagian dalam kesenian Ketoprak. Yang tak bisa (malu) main ketoprak memilih &#8220;naboh&#8221; (memainkan gamelan). Sedangkan yang tak bisa main ketoprak maupun naboh tetap terlibat dengan ikut mempersiapkan &#8220;ubo rampe&#8221; (peralatan). Semua dana saat pentas ditanggung oleh penduduk Kampoengkoe. Mereka &#8220;urunan&#8221; (menyumbang) dana untuk kegiatan pentas.</p>
<p>Pelatih ketoprak di Kampoengkoe adalah Pak Budi, seniman ketoprak dari Jogja. Sedangkan untuk pengrawit biasanya berlatih sendiri. Karena di kampungku hanya punya 2 pesinden, Lik Mur dan Lik Cenil, maka biasanya menyewa pesinden dari kampung lain. Sedangkan yang jadi Ketua Siswo Budoyo adalah Pak Maryono, tokoh di Kampoengkoe. </p>
<p>Biasanya pentas dilakukan di rumah Mbah Darmo saat itu menjabat sebagai &#8220;tamping&#8221; (Kepala Dusun) . Selain pemimpin Kampung, rumah Mbah Darmo terletak di tengah Kampung dan halamannya luas. Demikian juga tempat menyimpan gamelan juga di rumah itu.</p>
<p>Lakon-lakon yang sering dimainkan antara lain &#8220;Aryo Penangsang Gugur&#8221;, &#8220;Damarwulan Gugur&#8221;, dan cerita-cerita lain yang dikreasi sendiri. Pentas terakhir Siswo Budoyo dilaksanakan pada perayaan 17 Agustus 2006 lalu.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kampoengkoe.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kampoengkoe.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kampoengkoe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kampoengkoe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kampoengkoe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kampoengkoe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kampoengkoe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kampoengkoe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kampoengkoe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kampoengkoe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kampoengkoe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kampoengkoe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kampoengkoe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kampoengkoe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kampoengkoe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kampoengkoe.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kampoengkoe.wordpress.com&amp;blog=761158&amp;post=17&amp;subd=kampoengkoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/ketoprak-di-kampeongkoe-pernah-jaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9809f386106eea37b94443070e1c2e8b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">kampoengkoe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Babad Kampoengkoe</title>
		<link>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/babad-kampoengkoe/</link>
		<comments>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/babad-kampoengkoe/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Feb 2007 16:47:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kampoengkoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Babad Kampoeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/babad-kampoengkoe/</guid>
		<description><![CDATA[Menurut penuturan Mbah Darmo (83 Th), sesepuh di Kampoengkoe, tanah di Kampoengkoe pada awalnya berupa tegalan jagung. Jagung tersebut sering dimakan babi hutan. Karena dirusak babi, maka pemiliknya lantas menunggui ladangnya. Lama-kelamaan penunggunya kerasan dan mendirikan sebuah gubug.   Dari cerita Mbah Darmo, penunggu jagung&#8211;yang tak diketahui namanya itu&#8211;adalah simbah Canggahnya. Orang inilah yang menjadi penghuni pertama kali Kampeongkoe dan gubugnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kampoengkoe.wordpress.com&amp;blog=761158&amp;post=16&amp;subd=kampoengkoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut penuturan Mbah Darmo (83 Th), sesepuh di Kampoengkoe, tanah di Kampoengkoe pada awalnya berupa tegalan jagung. Jagung tersebut sering dimakan babi hutan. Karena dirusak babi, maka pemiliknya lantas menunggui ladangnya. Lama-kelamaan penunggunya kerasan dan mendirikan sebuah gubug.  </p>
<p>Dari cerita Mbah Darmo, penunggu jagung&#8211;yang tak diketahui namanya itu&#8211;adalah simbah Canggahnya. Orang inilah yang menjadi penghuni pertama kali Kampeongkoe dan gubugnya dibangun menjadi sebuah rumah. Orang ini yang menamakan daerah tempat tingglnya itu dengan &#8220;Ngalarangan&#8221;, berasal dari kata &#8220;larang&#8221; (mahal).</p>
<p>Lama-kelamaan  orang-orang yang punya ladang di sekitar &#8220;simbah&#8221; tadi ikut-ikutan mendirikan rumah juga. Mulai dari satu, dua, rumah hingga akhirnya membentuk sebuah perkampungan kecil. Konon, pada saat Mbah Darmo masih kecil, hanya ada sekitar 10 rumah di Kampoengkoe.</p>
<p>Setelah beranak pinak, lambat laun Kampoengkoe berkembang menjadi kampung agak besar dengan mengikuti lereng bukit Nggili. Bukit Nggili ini yang jadi perladangan bagi penduduk Kampoengkoe. Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan air, penduduk Kampoengkoe memanfaatkan pancuran di Kali Sengi. Pancuran itu tak pernah berhenti mengalir sejak simbah-simbah dulu sampai hari ini dan akan datang.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kampoengkoe.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kampoengkoe.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kampoengkoe.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kampoengkoe.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kampoengkoe.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kampoengkoe.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kampoengkoe.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kampoengkoe.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kampoengkoe.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kampoengkoe.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kampoengkoe.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kampoengkoe.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kampoengkoe.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kampoengkoe.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kampoengkoe.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kampoengkoe.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kampoengkoe.wordpress.com&amp;blog=761158&amp;post=16&amp;subd=kampoengkoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/babad-kampoengkoe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9809f386106eea37b94443070e1c2e8b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">kampoengkoe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kamoes Kampoengkoe</title>
		<link>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/kamoes-kampoengkoe/</link>
		<comments>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/kamoes-kampoengkoe/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Feb 2007 16:28:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kampoengkoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kamoes Kampeongkoe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/kamoes-kampoengkoe/</guid>
		<description><![CDATA[Bubuk             ; untuk menyebut kopi tumbuk Coklat             ; cacao Cemet             ; ungkapan kekesalan Dangir             ; menyiangi rumput Dawuhan        ; sistem perbaikan irigasi yang dikerjakan kolektif De’                  ; kamu Entho              ; ketela dikukus lalu ditumbuk Enyong           ; aku Gendoren        ; kenduri Gigal                ; jatuh Jidhor              ; terserah Kimpul           ; talas Ketan              ; jadah. Makanan dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kampoengkoe.wordpress.com&amp;blog=761158&amp;post=15&amp;subd=kampoengkoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Bubuk<span> </span><span>            </span>; untuk menyebut kopi tumbuk</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Coklat<span>             </span>; cacao</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Cemet<span>             </span>; ungkapan kekesalan</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Dangir<span>             </span>; menyiangi rumput</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Dawuhan<span>        </span>; sistem perbaikan irigasi yang dikerjakan kolektif</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">De’<span>                  </span>; kamu</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Entho<span>              </span>; ketela dikukus lalu ditumbuk</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Enyong<span>           </span>; aku</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Gendoren<span>        </span>; kenduri</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Gigal<span>                </span>; jatuh</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Jidhor<span>              </span>; terserah</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Kimpul<span>           </span>; talas</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Ketan<span>              </span>; jadah. Makanan dari beras ketan</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Empis-empis<span>  </span>; sayur cabe</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Lentheng<span>        </span>; makanan khas kampung kami, terbuat dari ketela</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Limolasan<span>       </span>; tradisi kirim doa bersama tiap tanggal 15 Jawa (bulan purnama)</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Lumbu<span>           </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">; talas</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Lompong<span>       </span>; batang talas</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Madhang<span>        </span>; makan</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Mandhing<span>       </span>; petai Cina</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Marning<span>          </span>; <em>porp corn</em> asli kampoengkoe</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Memeni<span>          </span>; mengeringkan sesuatu</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Modar<span>             </span>; mati<span>        </span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Nguwak-umuk; berteriak keras</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Ngompre’ng<span>   </span>; naik ojek</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Nyadran<span>          </span>; tradisi bersih makam</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Pirang-pirang<span> </span>; banyak, beranekaragam</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Pogo<span>    </span><span>            </span>; tempat mengeringkan jagung, di atas tungku</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Pring<span>               </span>; bambu</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Pe’yang<span>           </span>; kamu<span>            </span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Rengginang<span>    </span>; jenis makanan dari nasi kering</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Rombongan<span>    </span>; sistem pengerjaan tanah secara kolektif</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Sogun<span> </span><span>            </span>; akronim dari sosok untu, makanan dari ketela</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Tebon<span>              </span>; batang jagung</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"> </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kampoengkoe.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kampoengkoe.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kampoengkoe.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kampoengkoe.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kampoengkoe.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kampoengkoe.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kampoengkoe.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kampoengkoe.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kampoengkoe.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kampoengkoe.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kampoengkoe.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kampoengkoe.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kampoengkoe.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kampoengkoe.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kampoengkoe.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kampoengkoe.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kampoengkoe.wordpress.com&amp;blog=761158&amp;post=15&amp;subd=kampoengkoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/kamoes-kampoengkoe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9809f386106eea37b94443070e1c2e8b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">kampoengkoe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kearifan Publik di Kampoengkoe</title>
		<link>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/kearifan-publik-di-kampoengkoe/</link>
		<comments>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/kearifan-publik-di-kampoengkoe/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Feb 2007 16:02:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kampoengkoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Semilir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/kearifan-publik-di-kampoengkoe/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh AD Hartanto*  CERITA ini bukan tentang Maccondo. Kota dalam Seratus Tahun Kesunyian, Gabriel Garcia Marques, yang konon, melahirkan pelbagai ilmu pengetahuan. Hikayat kampung ini serupa dengan kampung-kampung lain sepanjang Sabang sampai Merauke. Orang-orangnya masih memercayai tradisi. Kampung yang menjadi “perpustakaan” terbesar di Nusantara. Tempat simbah-simbah  dengan berjibun-jibun kearifan dan cerita tersembunyi di balik pipi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kampoengkoe.wordpress.com&amp;blog=761158&amp;post=14&amp;subd=kampoengkoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Oleh AD Hartanto*</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">CERITA</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"> ini bukan tentang Maccondo. Kota dalam <em>Seratus Tahun Kesunyian, </em>Gabriel Garcia Marques, yang konon, melahirkan pelbagai ilmu pengetahuan.</span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Hikayat kampung ini serupa dengan kampung-kampung lain sepanjang Sabang sampai Merauke. Orang-orangnya masih memercayai tradisi. Kampung yang menjadi “perpustakaan” terbesar di Nusantara. Tempat <em>simbah-simbah </em><span> </span>dengan berjibun-jibun kearifan dan cerita tersembunyi di balik pipi perotnya. Daerah tempat perempuan-perempuan perkasa sibuk mengatur dapur, pertanian, dan pendidikan anaknya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Kampung dalam tulisan ini benar-benar ada. </span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Semua deskripsi peristiwa, agama, dan kebudayaan yang ada dalam tulisan ini adalah fakta akurat. Imajinasi dalam tulisan ini berfungsi sebagai pengikat dari fakta-fakta yang ada.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Sekali lagi, ini bukan Maccondo, cerita ini adalah tentang Nglarangan. Kampung kecil di pelosok Temanggung, Jawa Tengah. Dihuni 40 keluarga beragama Budha, 10 keluarga beragama Islam, 3 keluarga Kristen, 2 keluarga Katolik, 1 Masjid dan 1 Vihara dengan jarak 10 meter. </span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Meski agama terasa prural, profesi penduduknya homogen. Sebagian besar petani dengan rata-rata pendidikan akhir Sekolah Dasar (SD).</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Sebagaimana lulusan SD, maka orang-orang di kampung ini dipastikan tak mengenal <em>civil religion/</em>kearifan publik ala Philip N Bellah, sosiolog Paman Sam. </span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Kampung ini tak pernah mendengar “wacana langit” tentang tata kehidupan masyarakat yang terbentuk dari naluri-naluri transenden dan hukum-hukum formal seperti kata Bellah. Tak kenal dengan contoh yang diajukan Bellah bahwa <span> </span>civil religion pertama kali di Amerika Serikat adalah <em>declaration of Independence.</em></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Tapi orang kampung mempraktikan dalam keseharian sejak kampung ini berdiri pada kitaran pasca Perang Diponegoro, 1830. Bagi orang kampung, agama adalah jalan “mencapai” Tuhan, bukan semata agama institusional. Di mana setiap institusional membutuhkan legitimasi, penganut, dan doktrin. </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Di kampung instuisional macam itu tak digubris.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Hal ini bisa dilihat dari perilaku penduduk kampung ini. Dalam tempat ibadah, mereka menjadi milik agama yang dianut. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Tapi di luar mereka adalah anggota masyarakat tanpa kehilangan nilai-nilai agama yang dianut. Tampaknya, moralitas individu sepenuhnya perkara transeden yang bersifat personal. </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Sederhananya, agamaku agamaku, agamu adalah agamamu. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Pandangan beragama seperti itu dapat dilihat dalam keterikatan antara makanan dengan keyakinan agama. Bila ada tetangga non-muslim memasak (maaf) daging anjing,<span>  </span>maka umat muslim “menghormatinya”. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"> </span></p>
<p></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Sebaliknya, orang yang memasak pun tak pernah mengajak makan, membujuk, atau bahkan menipu dengan daging yang dimasak kepada mereka yang menajiskannya. Tampaknya, ada kesalingpahaman satu sama lain dalam urusan makan dan agama. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Dalam hidup masyarakat pruralis, mereka berkeyakinan bahwa yang terpenting adalah kemajuan kampung. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Keinginan <em>mbangun desa </em>yang berpijak pada rasa memiliki terhadap kampung, tempat mereka lahir yangterekam kuat dalam benak mereka. Untuk itu, mereka tak enggan untuk berswadaya mengaspal jalan, membuat saluran air, mendanai kesenian dan olahraga demi kemajuan kampung. Swadaya itu dilakukan sebab konon kabarnya janji-janji politik dari wakil rakyat (DPRD dan Lurah) saat kampanye tak ditepati.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Tradisi sebagai pondasi. </span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Prasangka terhadap perbedaan agama terlebur oleh kekuatan kebudayaan masyarakat yang mayoritas beretnis dan berkebudayaan Jawa. Meski begitu, tradisi masyarakat kampung kini tak bisa dibilang steril dari ulah dan pemikiran para “intelektual hitam”. Yang berdalih membawa aufklarung pengetahuan (agama) dan modernitas tapi yang terjadi justru penjerumusan dan pembodohan terselubung. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Lambat tapi pasti, pengaruh intelektual hitam menggerus “otensitas” tradisi. Dari sekian tradisi yang pernah ada, barangkali yang masih utuh adalah gotong royong. Ciri khas masyarakat paguyuban ini nampak dalam tradisi seperti s<em>inoman </em>(tradisi membantu orang yang punya hajat), <em>rombongan </em>(gotong royong mengolah sawah atau ladang), dan <em>dawuhan </em>(merawat irigasi). </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Dalam lapangan kerukunan umat beragama pun terjadi hal serupa. Saat umat Budha merayakan Waisak, contohnya, maka umat beragama lain (Islam, Kristen, dan Katolik) ikut membantu menyiapkan makanan untuk para tamu undangan. Demikian juga halnya dengan Lebaran, umat Islam bersilaturahim ke tetangga mereka yang berbeda agama. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Di saat hari besar (Waisak dan Idul Fitri) selalu diselenggarakan tradisi <em>metoake’. </em></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Dalam tradisi ini, seluruh warga kampung membawa perbekalan berupa makanan. Sebelum diselenggarakan makan bersama, diadakan doa bersama yang diikuti seluruh kepala keluarga. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Pemimpin doa disesuaikan dengan hari besar agama umat bersangkutan. Sedang kaum di luar agama itu berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Begitu sebaliknya, jika Waisak maka pemimpin doa adalah pemuka agama Budha, sebaliknya jika Idul Fitri pemimpin doa dari pemuka Muslim.<span>  </span><em><span> </span></em></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><em><span></span></em></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Kerukunan dan kebersamaan ini tentu tak lepas dari kebudayaan dan filosofi Jawa. Hal ini bisa dilacak dari kesadaran mereka dalam menerima tamu, sosok yang mereka anggap sebagai yang asing dan berbeda. Orang Jawa, terlebih di kampung, akan begitu menghormati tamu dari “kota” yang bagi mereka asing dan memiliki tabiat berbeda. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Meski begitu mereka bisa berkompromi dan menghormati. Orang Jawa (kampung) akan bereaksi, jika tamu mengganggu batas privasi mereka. Perilaku tamu seperti itu sering kali disebut dengan <em>murang tata </em>(tak tahu tata krama).</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Dalam catatan sejarah jelas nampak bagaimana raja-raja Jawa memperlakukan tamu mereka. Ketika VOC datang ke Jawa (Mataram) mereka menyambut dengan senang hati. VOC bahkan diberi keleluasaan menderikan kantor dagang. Namun sejarah mencatat tatkala Sultan Agung mengusir VOC di Batavia. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Sebab bagi Sultan Agung, VOC dianggap sebagai tamu asing yang <em>murang tata </em><span> </span>maka tak segan mengusir mereka.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Perilaku penghormatan terhadap yang asing dan berbeda itu benar-benar merasuk dalam kehidupan masyarakat. Demikian juga kesadaran tersebut berlaku pada lapangan pruralisme keagamaan. Mereka akan menghormati tiap perrbedaan agama. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Bagi mereka sesuatu yang asing jika tak sesuai dengan keyakinan mereka tak akan menunjukkannya dengan frontal. Sebab, bagi mereka, terang-terangan menunjukan “ketidaksenangan” pada yang asing<span>  </span>dan berbeda dianggap tabu. Untuk itu, mereka memilih bergunjing di belakang, <em>nguda rasa</em>. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Ruang baru: Kesenian dan Olahraga. </span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Kesenian, sebagaimana diketahui, adalah ruang tanpa sekat perbedaan etnis, ras, agama, dan tingkat sosial. Inilah ruang baru yang menampung keberagaman orang kampung dewasa ini. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Di kampung itu, seni lapangan (seni pertunjukan di lapangan) Kuda Lumping, terbukti memberi ruang baru terhadap perbedaan agama. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Kuda Lumping bisa jadi mengurangi kecurigaan-kecurigaan dalam beragama. Sebab Kuda Lumping yang menjadi milik warga ini tak bertendensi pada agama tertentu.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Kuda Lumping kesenian asli Temanggung, yang menceritakan tentang prajurit Mataram dari Temanggung, <span> </span>menjadikan kesenian ini lebih netral dari kesenian yang bernuansa religius. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Beda dengan seni Trebangan (shalawatan), misal, yang lebih bernuansa islami dan<span>  </span>non-muslim sangat kecil. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Kenytaaanya kenetralan Kuda Lumping dalam pemahaman teologis dapat diterima masyarakat dengan latar belakang agama apapun, tak terkecuali Katolik dan Kristen yang dekat dengan kebudayaan Eropa. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Pada akhirnya, Kuda Lumping lebih dari ujud ekspresi diri, bukan agama. Penonton akan melihat keindahan gerak tari ini bukan dari sudut pandang agama, tapi dari kekompakan penarinya, keindahan gerak yang energik, dan gegap gempita rancak kendang.<span>  </span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"><span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Selain kesenian, olahraga ternyata cukup signifikan dalam menciptakan ruang baru lintas agama. Olahraga, terutama bola volly dan sepakbola, yang hidup di kampung menembus sekat-sekat agama. Di lapangan, orang tak melihat seberapa religius, latar belakang agama, dan etnis pemainnya. Kemampuan/<em>skill </em>dan <em>teamwork <span> </span></em>justru yang ditilik dan dilihat. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Manusia yang <em>homo luddens,</em> selalu membutuhkan ruang untuk bergerak dan bermain. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Dari olahraga sportifitas dan <em>fair play </em>dijunjung. Memajukan olahraga di kampung sama halnya mengikat persaudaraan Indonesia daslam bentuk yang sangat kecil. Apalagi jika olahraga yang dikembangkan adalah olahraga yang mengutamakan <em>team work.</em></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';"></span><span>Barangkali dari situ kelak kampung-kampung kami di sepanjang gugusan Nusantara menjadi Maccondo. Sesuatu yang magis dan masih punya kesempatan untuk menjadikannya realis. <strong> </strong></span></p>
<p><span></span><span><strong>AD Hartanto</strong>/<span style="font-size:11pt;font-family:'Palatino Linotype';">Tinggal di RT 04/RW 01 Kampoengkoe</span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kampoengkoe.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kampoengkoe.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kampoengkoe.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kampoengkoe.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kampoengkoe.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kampoengkoe.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kampoengkoe.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kampoengkoe.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kampoengkoe.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kampoengkoe.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kampoengkoe.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kampoengkoe.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kampoengkoe.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kampoengkoe.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kampoengkoe.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kampoengkoe.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kampoengkoe.wordpress.com&amp;blog=761158&amp;post=14&amp;subd=kampoengkoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengkoe.wordpress.com/2007/02/08/kearifan-publik-di-kampoengkoe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9809f386106eea37b94443070e1c2e8b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">kampoengkoe</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
