Lir Ilir

Lir Ilir. Adalah pekabaran sekitar dunia pertanian. Usaha-usaha, info-info, dan teknologi-teknologi pertanian.

Komentar bertahan »

Akar Tradisi Toleransi

Minggu malam, setelah pulang dari acara keakraban mahasiswa baru Katolik UNY saya baca sebuah tulisan pendek di harian Kompas Jogja  (1/10/06). Tulisan pendek itu menyebutkan, Gubernur DIY, Sultan Hamengku Buwono X menyebarkan surat edaran, menghimbau warga Jogja selama Ramadhan untuk meningkatkan toleransi beragamanya.

Jujur! Saya agak tertegun sejenak saat baca tulisan itu. Perkataan Sultan Jogja mengingatkan saya (entah kebetulan) yang selalu hidup di lingkungan berbeda agama. Saya lahir di kampung kecil pedalaman Temanggung, Jawa Tengah yang penduduknya mayoritas beragama Budha.

Jika diperinci demikian: dari 50 kepala keluarga di kampung itu, 10 diantaranya Islam, 2 keluarga Katolik, 3 Kristen, sisanya Budha (sejak kecil saya membayangkan akan ketemu seorang Hindu). Vihara dan Mushala hanya berbatas jalan. Setahu saya tak pernah ada konflik di kampung kecil itu meskipun agama berwarna-warni.

Di bulan Ramadhan kebanyakan warga kampung tak puasa. Mereka bebas saja merokok di rumah dan di sawah. Sedang kaum muslim tetap leluasa beribadah. Aktivitas tak ada yang berubah. Malam Minggu dan malam Kamis saat umat Budha ke Vihara kaum muslim tarawih di mushala. Sehabis sembayang dengan cara masing-masing mereka bertemu di perempatan, mengobrol soal panen, sembako dan pupuk yang kian mahal.

Perbedaan agama itu makin melekat dalam ingatan ketika saya pindah kampung di kota kecamatan Kaloran, Temanggung yang mayoritas penduduknya muslim. Bagi saya, Ramadhan saat itu menjadi bulan penuh kesendirian sekaligus kebersamaan. Tiap isya saya merasa sendiri ditinggal teman-teman yang ikut tarawih. Rasanya seperti menjadi the others. Saya bukan bagian dari mereka. Tetapi rasa itu hilang ketika saya menjadi bagian dari kebersamaan.

Tiap pagi sehabis teman-teman muslim sahur dan shalat subuh kami jalan-jalan menikmati pagi pegunungan. Apalagi ketika Idul Fitri tiba. Orang-orang kampung berkumpul di aula bermaaf-maafan tak terkecuali saya dan beberapa tetangga non-muslim pun para rantau yang pulang kampung. Idul Fitri di kampung kami menjadi bagian dari kehidupan yang tak terpisahkan. Idul Fitri menjadi moment penting ketika semua berkumpul.  Dan mangan ora mangan kumpul ternyata bukan ungkapan kosong.

Di kampus bayangan semasa kecil terwujud. Saya ketemu anak Bali beragama Hindu. Di kampus pula saya kenal dengan orang yang mengaku dirinya atheis. Bahkan para pengikut-pengikut tarekat dengan ritual dan konsepsi aneh menurut pandangan umum. Suasana jauh lebih kontras di banding dengan di kampung dulu.

Di kampus pula saya temukan pelbagai peristiwa. Di ruang kecil pojok kampus saya merokok bersama teman yang tak puasa. Tiba-tiba seorang karib dari Jakarta datang mau shalat dzuhur, kami persilakan karib itu untuk shalat sementara kami tetap asyik merokok. Karib saya sebenarnya juga perokok. Tapi dia tak berkomentar sebaliknya menunjukan sikap biasa.

Seorang karib lain justru mengajak saya ikut sahur. Ia belikan nasi dan sayur. Saya dimintanya ikut puasa. Permintaan itu saya penuhi. Jika puasa diartikan sebagai menahan lapar, dahaga, dan rokok, hampir tiap hari saya merasakannya (kadang saya tak punya duit untuk beli nasi kucing barang sebungkus).

Ajakan puasa itulah yang membuat saya mengerti betapa nikmatnya bersama-sama menunggu adzan maghrib saat puasa. Menunggu berbuka menjadi satu kenikmatan sendiri, rasa kebahagiaan yang pasti datang.  Hanya saja saya yang tak punya duit untuk berbuka. Akhirnya karib saya juga yang membelikan segelas kolak pisang dan beberapa batang rokok.  

Ini pengalaman lain diskusi sore sekalian buka bersama di LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) Jogja. Diskusi buku Kitab Shaladin yang bercerita tokoh Islam yang tak pernah saya kenal, kebetulan karib saya mengajak. Di situ di tengah-tengah mereka yang puasa dan di tengah-tengah diskusi saya tak merasa menjadi yang lain. 

Mereka semua orang yang suka diskusi, saya yakin mereka biasa menerima perbedaan. Beberapa peristiwa yang saya alami di atas itulah yang membuat saya tertegun. Perkataan Sultan menjadi semacam pencerah bahwa saya selama ini terlalu mengagungkan teori-terori toleransi hingga saya tak bisa menjangkaunya.  Sungguh!

Komentar bertahan »

Seni dan Tradisi

kuda lumping

Seni dan Tradisi. Pekabaran tentang dunia kesenian di Kampoengkoe. Tempat orang kampung berkesenian. Tempat tradisi yang diwariskan turun-temurun sebuah coba dipertahankan.

Komentar bertahan »

Ketoprak di Kampoengkoe Pernah Jaya

Ketoprak di Kampeongkoe pernah berjaya pada tahun 1980-an. Kesenian Ketoprak di Kampoengkoe dinamakan “Siswo Budoyo” (pembelajar kebudayaan). Warga sendiri yang memberi nama itu. Kejayaan itu dibuktikan dengan sering diundangnya para pemain ketoprak dari Kampoengkoe untuk pentas ke kampung-kampung lain. Juga pernah menjadi kelompok ketoprak tingkat Kecamatan.

Karena Kampoengkoe kecil, maka seluruh warga ikut ambil bagian dalam kesenian Ketoprak. Yang tak bisa (malu) main ketoprak memilih “naboh” (memainkan gamelan). Sedangkan yang tak bisa main ketoprak maupun naboh tetap terlibat dengan ikut mempersiapkan “ubo rampe” (peralatan). Semua dana saat pentas ditanggung oleh penduduk Kampoengkoe. Mereka “urunan” (menyumbang) dana untuk kegiatan pentas.

Pelatih ketoprak di Kampoengkoe adalah Pak Budi, seniman ketoprak dari Jogja. Sedangkan untuk pengrawit biasanya berlatih sendiri. Karena di kampungku hanya punya 2 pesinden, Lik Mur dan Lik Cenil, maka biasanya menyewa pesinden dari kampung lain. Sedangkan yang jadi Ketua Siswo Budoyo adalah Pak Maryono, tokoh di Kampoengkoe. 

Biasanya pentas dilakukan di rumah Mbah Darmo saat itu menjabat sebagai “tamping” (Kepala Dusun) . Selain pemimpin Kampung, rumah Mbah Darmo terletak di tengah Kampung dan halamannya luas. Demikian juga tempat menyimpan gamelan juga di rumah itu.

Lakon-lakon yang sering dimainkan antara lain “Aryo Penangsang Gugur”, “Damarwulan Gugur”, dan cerita-cerita lain yang dikreasi sendiri. Pentas terakhir Siswo Budoyo dilaksanakan pada perayaan 17 Agustus 2006 lalu.

Komentar bertahan »

Babad Kampoengkoe

Menurut penuturan Mbah Darmo (83 Th), sesepuh di Kampoengkoe, tanah di Kampoengkoe pada awalnya berupa tegalan jagung. Jagung tersebut sering dimakan babi hutan. Karena dirusak babi, maka pemiliknya lantas menunggui ladangnya. Lama-kelamaan penunggunya kerasan dan mendirikan sebuah gubug.  

Dari cerita Mbah Darmo, penunggu jagung–yang tak diketahui namanya itu–adalah simbah Canggahnya. Orang inilah yang menjadi penghuni pertama kali Kampeongkoe dan gubugnya dibangun menjadi sebuah rumah. Orang ini yang menamakan daerah tempat tingglnya itu dengan “Ngalarangan”, berasal dari kata “larang” (mahal).

Lama-kelamaan  orang-orang yang punya ladang di sekitar “simbah” tadi ikut-ikutan mendirikan rumah juga. Mulai dari satu, dua, rumah hingga akhirnya membentuk sebuah perkampungan kecil. Konon, pada saat Mbah Darmo masih kecil, hanya ada sekitar 10 rumah di Kampoengkoe.

Setelah beranak pinak, lambat laun Kampoengkoe berkembang menjadi kampung agak besar dengan mengikuti lereng bukit Nggili. Bukit Nggili ini yang jadi perladangan bagi penduduk Kampoengkoe. Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan air, penduduk Kampoengkoe memanfaatkan pancuran di Kali Sengi. Pancuran itu tak pernah berhenti mengalir sejak simbah-simbah dulu sampai hari ini dan akan datang.

Komentar bertahan »

Kamoes Kampoengkoe

Bubuk             ; untuk menyebut kopi tumbuk

Coklat             ; cacao

Cemet             ; ungkapan kekesalan

Dangir             ; menyiangi rumput

Dawuhan        ; sistem perbaikan irigasi yang dikerjakan kolektif

De’                  ; kamu

Entho              ; ketela dikukus lalu ditumbuk

Enyong           ; aku

Gendoren        ; kenduri

Gigal                ; jatuh

Jidhor              ; terserah

Kimpul           ; talas

Ketan              ; jadah. Makanan dari beras ketan

Empis-empis  ; sayur cabe

Lentheng        ; makanan khas kampung kami, terbuat dari ketela

Limolasan       ; tradisi kirim doa bersama tiap tanggal 15 Jawa (bulan purnama)

Lumbu           ; talas

Lompong       ; batang talas

Madhang        ; makan

Mandhing       ; petai Cina

Marning          ; porp corn asli kampoengkoe

Memeni          ; mengeringkan sesuatu

Modar             ; mati       

Nguwak-umuk; berteriak keras

Ngompre’ng   ; naik ojek

Nyadran          ; tradisi bersih makam

Pirang-pirang ; banyak, beranekaragam

Pogo                ; tempat mengeringkan jagung, di atas tungku

Pring               ; bambu

Pe’yang           ; kamu           

Rengginang    ; jenis makanan dari nasi kering

Rombongan    ; sistem pengerjaan tanah secara kolektif

Sogun             ; akronim dari sosok untu, makanan dari ketela

Tebon              ; batang jagung 

Komentar bertahan »

Kearifan Publik di Kampoengkoe

Oleh AD Hartanto* 

CERITA ini bukan tentang Maccondo. Kota dalam Seratus Tahun Kesunyian, Gabriel Garcia Marques, yang konon, melahirkan pelbagai ilmu pengetahuan.

Hikayat kampung ini serupa dengan kampung-kampung lain sepanjang Sabang sampai Merauke. Orang-orangnya masih memercayai tradisi. Kampung yang menjadi “perpustakaan” terbesar di Nusantara. Tempat simbah-simbah  dengan berjibun-jibun kearifan dan cerita tersembunyi di balik pipi perotnya. Daerah tempat perempuan-perempuan perkasa sibuk mengatur dapur, pertanian, dan pendidikan anaknya. Kampung dalam tulisan ini benar-benar ada.

Semua deskripsi peristiwa, agama, dan kebudayaan yang ada dalam tulisan ini adalah fakta akurat. Imajinasi dalam tulisan ini berfungsi sebagai pengikat dari fakta-fakta yang ada.Sekali lagi, ini bukan Maccondo, cerita ini adalah tentang Nglarangan. Kampung kecil di pelosok Temanggung, Jawa Tengah. Dihuni 40 keluarga beragama Budha, 10 keluarga beragama Islam, 3 keluarga Kristen, 2 keluarga Katolik, 1 Masjid dan 1 Vihara dengan jarak 10 meter.

Meski agama terasa prural, profesi penduduknya homogen. Sebagian besar petani dengan rata-rata pendidikan akhir Sekolah Dasar (SD).Sebagaimana lulusan SD, maka orang-orang di kampung ini dipastikan tak mengenal civil religion/kearifan publik ala Philip N Bellah, sosiolog Paman Sam.

Kampung ini tak pernah mendengar “wacana langit” tentang tata kehidupan masyarakat yang terbentuk dari naluri-naluri transenden dan hukum-hukum formal seperti kata Bellah. Tak kenal dengan contoh yang diajukan Bellah bahwa  civil religion pertama kali di Amerika Serikat adalah declaration of Independence. Tapi orang kampung mempraktikan dalam keseharian sejak kampung ini berdiri pada kitaran pasca Perang Diponegoro, 1830. Bagi orang kampung, agama adalah jalan “mencapai” Tuhan, bukan semata agama institusional. Di mana setiap institusional membutuhkan legitimasi, penganut, dan doktrin. Di kampung instuisional macam itu tak digubris.Hal ini bisa dilihat dari perilaku penduduk kampung ini. Dalam tempat ibadah, mereka menjadi milik agama yang dianut. Tapi di luar mereka adalah anggota masyarakat tanpa kehilangan nilai-nilai agama yang dianut. Tampaknya, moralitas individu sepenuhnya perkara transeden yang bersifat personal. Sederhananya, agamaku agamaku, agamu adalah agamamu. Pandangan beragama seperti itu dapat dilihat dalam keterikatan antara makanan dengan keyakinan agama. Bila ada tetangga non-muslim memasak (maaf) daging anjing,  maka umat muslim “menghormatinya”.  

Sebaliknya, orang yang memasak pun tak pernah mengajak makan, membujuk, atau bahkan menipu dengan daging yang dimasak kepada mereka yang menajiskannya. Tampaknya, ada kesalingpahaman satu sama lain dalam urusan makan dan agama. Dalam hidup masyarakat pruralis, mereka berkeyakinan bahwa yang terpenting adalah kemajuan kampung.

Keinginan mbangun desa yang berpijak pada rasa memiliki terhadap kampung, tempat mereka lahir yangterekam kuat dalam benak mereka. Untuk itu, mereka tak enggan untuk berswadaya mengaspal jalan, membuat saluran air, mendanai kesenian dan olahraga demi kemajuan kampung. Swadaya itu dilakukan sebab konon kabarnya janji-janji politik dari wakil rakyat (DPRD dan Lurah) saat kampanye tak ditepati.

Tradisi sebagai pondasi. Prasangka terhadap perbedaan agama terlebur oleh kekuatan kebudayaan masyarakat yang mayoritas beretnis dan berkebudayaan Jawa. Meski begitu, tradisi masyarakat kampung kini tak bisa dibilang steril dari ulah dan pemikiran para “intelektual hitam”. Yang berdalih membawa aufklarung pengetahuan (agama) dan modernitas tapi yang terjadi justru penjerumusan dan pembodohan terselubung.

Lambat tapi pasti, pengaruh intelektual hitam menggerus “otensitas” tradisi. Dari sekian tradisi yang pernah ada, barangkali yang masih utuh adalah gotong royong. Ciri khas masyarakat paguyuban ini nampak dalam tradisi seperti sinoman (tradisi membantu orang yang punya hajat), rombongan (gotong royong mengolah sawah atau ladang), dan dawuhan (merawat irigasi).

Dalam lapangan kerukunan umat beragama pun terjadi hal serupa. Saat umat Budha merayakan Waisak, contohnya, maka umat beragama lain (Islam, Kristen, dan Katolik) ikut membantu menyiapkan makanan untuk para tamu undangan. Demikian juga halnya dengan Lebaran, umat Islam bersilaturahim ke tetangga mereka yang berbeda agama. Di saat hari besar (Waisak dan Idul Fitri) selalu diselenggarakan tradisi metoake’.

Dalam tradisi ini, seluruh warga kampung membawa perbekalan berupa makanan. Sebelum diselenggarakan makan bersama, diadakan doa bersama yang diikuti seluruh kepala keluarga. Pemimpin doa disesuaikan dengan hari besar agama umat bersangkutan. Sedang kaum di luar agama itu berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Begitu sebaliknya, jika Waisak maka pemimpin doa adalah pemuka agama Budha, sebaliknya jika Idul Fitri pemimpin doa dari pemuka Muslim.   

Kerukunan dan kebersamaan ini tentu tak lepas dari kebudayaan dan filosofi Jawa. Hal ini bisa dilacak dari kesadaran mereka dalam menerima tamu, sosok yang mereka anggap sebagai yang asing dan berbeda. Orang Jawa, terlebih di kampung, akan begitu menghormati tamu dari “kota” yang bagi mereka asing dan memiliki tabiat berbeda.

Meski begitu mereka bisa berkompromi dan menghormati. Orang Jawa (kampung) akan bereaksi, jika tamu mengganggu batas privasi mereka. Perilaku tamu seperti itu sering kali disebut dengan murang tata (tak tahu tata krama).

Dalam catatan sejarah jelas nampak bagaimana raja-raja Jawa memperlakukan tamu mereka. Ketika VOC datang ke Jawa (Mataram) mereka menyambut dengan senang hati. VOC bahkan diberi keleluasaan menderikan kantor dagang. Namun sejarah mencatat tatkala Sultan Agung mengusir VOC di Batavia.

Sebab bagi Sultan Agung, VOC dianggap sebagai tamu asing yang murang tata  maka tak segan mengusir mereka.Perilaku penghormatan terhadap yang asing dan berbeda itu benar-benar merasuk dalam kehidupan masyarakat. Demikian juga kesadaran tersebut berlaku pada lapangan pruralisme keagamaan. Mereka akan menghormati tiap perrbedaan agama.

Bagi mereka sesuatu yang asing jika tak sesuai dengan keyakinan mereka tak akan menunjukkannya dengan frontal. Sebab, bagi mereka, terang-terangan menunjukan “ketidaksenangan” pada yang asing  dan berbeda dianggap tabu. Untuk itu, mereka memilih bergunjing di belakang, nguda rasa.

Ruang baru: Kesenian dan Olahraga. Kesenian, sebagaimana diketahui, adalah ruang tanpa sekat perbedaan etnis, ras, agama, dan tingkat sosial. Inilah ruang baru yang menampung keberagaman orang kampung dewasa ini. Di kampung itu, seni lapangan (seni pertunjukan di lapangan) Kuda Lumping, terbukti memberi ruang baru terhadap perbedaan agama.

Kuda Lumping bisa jadi mengurangi kecurigaan-kecurigaan dalam beragama. Sebab Kuda Lumping yang menjadi milik warga ini tak bertendensi pada agama tertentu.Kuda Lumping kesenian asli Temanggung, yang menceritakan tentang prajurit Mataram dari Temanggung,  menjadikan kesenian ini lebih netral dari kesenian yang bernuansa religius.

Beda dengan seni Trebangan (shalawatan), misal, yang lebih bernuansa islami dan  non-muslim sangat kecil. Kenytaaanya kenetralan Kuda Lumping dalam pemahaman teologis dapat diterima masyarakat dengan latar belakang agama apapun, tak terkecuali Katolik dan Kristen yang dekat dengan kebudayaan Eropa.

Pada akhirnya, Kuda Lumping lebih dari ujud ekspresi diri, bukan agama. Penonton akan melihat keindahan gerak tari ini bukan dari sudut pandang agama, tapi dari kekompakan penarinya, keindahan gerak yang energik, dan gegap gempita rancak kendang. 

Selain kesenian, olahraga ternyata cukup signifikan dalam menciptakan ruang baru lintas agama. Olahraga, terutama bola volly dan sepakbola, yang hidup di kampung menembus sekat-sekat agama. Di lapangan, orang tak melihat seberapa religius, latar belakang agama, dan etnis pemainnya. Kemampuan/skill dan teamwork  justru yang ditilik dan dilihat. Manusia yang homo luddens, selalu membutuhkan ruang untuk bergerak dan bermain.

Dari olahraga sportifitas dan fair play dijunjung. Memajukan olahraga di kampung sama halnya mengikat persaudaraan Indonesia daslam bentuk yang sangat kecil. Apalagi jika olahraga yang dikembangkan adalah olahraga yang mengutamakan team work.

Barangkali dari situ kelak kampung-kampung kami di sepanjang gugusan Nusantara menjadi Maccondo. Sesuatu yang magis dan masih punya kesempatan untuk menjadikannya realis.  

AD Hartanto/Tinggal di RT 04/RW 01 Kampoengkoe

Komentar bertahan »